Senin, 19 Agustus 2013

DONAT MEMANG MANIS

Hatiku gundah. Hari ini terasa panjang bagiku. Ku menanti dengan cemas. Berharap dokter akan segera keluar dari ruang UGD dan membawa sebuah berita. Entah itu berita baik ataupun buruk. Menit-menit telah berlalu. Tiba-tiba sesosok pria dengan jas putih keluar dai ruang UGD dan menhampiriku.
“Apakah Anda adalah keluarga dari Bu Rita?” Tanya dokter itu.
“Ya, saya anaknya. Apakah ibu saya baik-baik saja, Dok?” Tanyaku selanjutnya.
“Ibu Anda baik-baik saja. Untung saja tadi segera di bawa ke sini. Kalau tidak hal buruk mungkin saja terjadi.”  Lalu dokter itu tersenyum padaku. “ Tapi  untuk beberapa hari ini ibu Anda harus dirawat inap di sini.  Untuk itu saya harap pembayarannya sesegera mungkin untuk dilunasi. Agar kami bisa merawat ibu Anda dengan lebih intensif.” Terang dokter itu.
Lalu hening. Butuh beberapa saat bagiku untuk memikirkan kembali apa yang telah dikatakan dokter itu. Lalu, aku mulai berkata, “Baik, Dok. Akan saya usahakan. Kalau begitu saya permisi dulu untuk melihat kondisi ibu saya.”
“Oh, ya. Tentu saja. Silahkan.”
Lalu aku menganggukkan kepalaku pada dokter itu dan langsung menuju ruangan dimana ibuku dirawat. Pelan-pelan aku mendekati ibuku. Ku lihat dia masih tertidur. Ku berjalan ke samping kasur ibuku. Ku lihat wajahnya. Sungguh tak tega melihatnya tertidur di sana dengan keadaan seperti itu.
“Oh, Ibu. Apa yang harus kulakukan? Aku tak tahu caranya menghasilkan uang. Aku harus bagaimana, Bu?” Kataku lirih sambil  terisak. Tiba-tiba, aku mendengar sesuatu. Suaranya berasal dari luar jendela. Ku berjalan mendekat ke jendela. Membukanya dan melihat sekitar. Yang dapat ku temukan hanyalah seorang wanita paruh baya yang sedang membawa sekeranjang penuh jajanan.
“Donat manis! Donat manis! Rasanya enak harga ekonomis! Ayo, beli, beli!” Teriak wanita itu. Tak lama, satu per satu anak-anak kecil juga beberapa orang dewasa lainnya datang menghampirinya. Wanita itu melayani mereka dengan seutas senyum menghiasi wajahnya. Untuk beberapa saat, terbayang olehku ibuku sedang ada di sana. Melayani mereka semua dengan seutas senyum tulus menghiasi wajahnya. Dan itulah jawabannya! Ku menghampiri ibuku yang masih terbaring lemah di kasur.    Ku kecup keningnya perlahan. “Tenang saja, Bu. Aku sudah mendapatkan jawabannya.  Aku akan mendapatkan uang untuk biaya perawatan Ibu. Aku janji!” Kataku lirih. Setelah itu aku pergi meninggalkan ibuku.
Saat tiba dirumah, aku langsung menggeledah kamar dan dapur demi mendapatkan resep donat buatan ibuku. Walau sebelumnya aku juga sedikit ragu dengan apa yang kulakukan. Karena seumur-umur aku belum pernah membuat donat. Setelah lama mencari, akhirnya  akupun menemukannya. Resep donat buatan ibuku yang super duper lezat. Donat yang telah menghidupi kami selama bertahun-tahun. Benar. Ibuku memang seorang penjual donat. Donat itu dititpkan ke beberapa toko roti di kota kami. Dan uang yang sudah terkumpul dari penjualan itu telah menghidupi kami selama ini. Ayahku telah tiada ketika aku masih kecil. Sehingga ibuku lah  yang menjadi tulang punggung keluarga.
Hingga pada suatu hari ibuku tiba-tiba saja muntah darah dan langsung pingsan. Aku langsung membawanya ke rumah sakit terdekat. Dan akhirnya ibuku harus menginap di rumah sakit. Dan hanya akulah yang bisa mengganti posisi ibuku mencari uang. Karena aku adalah satu-satunya anak yang ia miliki.
Sehari penuh ku habiskan waktuku untuk belajar membuat donat tersebut. Kegagalan dalam membuatnya pun tak bisa lagi dihitung dengan jari. Namun kata putus asa tidak ada dalam kamusku. Ku mencoba dan mencoba lagi. Entah sudah berapa banyak bahan yang kugunakan dalam percobaan ini. Namun aku tetap tak peduli. Dan perjuanganku tidak sia-sia. Selama berjam-jam aku mencoba membuat donat, setidaknya yang satu ini berhasil. Rasanya seenak buatan ibuku. Lalu aku mulai membuat donat dengan takaran yang sama dalam jumlah yang lebih banyak untuk kujual esok hari. Lalu, di bagian atasnya ku beri beberapa topping agar terlihat menarik.
Hari berikutnya, aku sudah siap untuk berjualan donat. Sebagian aku titipkan ke toko-toko roti langgananku, sebagian aku titipkan ke beberapa sekolah, dan sisanya aku coba untuk menjualnya ke kampusku. Aku coba untuk tawarkan ke teman satu kelasku. Tapi mereka masih ragu untuk mencobanya. Lalu aku coba untuk menawarkannya pada teman-teman di luar kelas. Mungkin saja mereka mau membelinya.
Aku pergi keluar kelas. Lalu berjalan menuju taman. Disana memang tempat yang pas untuk mengobrol atau sekedar menikmati udara bebas. Aku berjalan dengan membuka penutup tempat donat-donatku. Berharap mereka mencium bau harum dari donat-donatku dan langsung membelinya. Namun semua khayalanku itu hancur. Tiba-tiba aku ditabrak oleh seseorang dari belakang. Donat-donatku pun jatuh berceceran di tanah. Aku memandangi donat-donatku yang jatuh. Butuh beberapa saat bagiku untuk mengumpulkan energi agar bisa memarahinya. Orang yang menabrakku tadipun terdiam di tempat. Butuh beberapa saat juga baginya untuk menyadari apa yang sedang terjadi. kemudian ia sadar dan ingin membantuku membereskan donat-donat yang berceceran. Tapi ia kalah cepat karena temperaturku sudah terlanjur naik.
“Kau ini punya mata tidak?! Kalau jalan itu hati-hati dong! Jalan itu pakai mata, bukan pakai lutut!” Kataku dengan emosi yang meledak-ledak. Hampir semua orang yang ada di taman melihati kami dengan ekspresi kaget.  Kulihat orang yang menabrakku tadi memberi isyarat agar mereka semua tidak memandangi kami lagi. Dan semuanya mulai berjalan normal kembali.
“Maaf aku nggak sengaja. Tadi aku harus buru-buru mengumpulkan skripsi ini. Kalau tidak nilaiku yang jadi ancamnnya.” Terang orang itu.
“Halah! Maaf, maaf! Memang segampang itu ngucapin maaf? Lihat! Gara-gara ulahmu donat-donatku jatuh semua. Kalau kayak gini gimana aku bisa menjualnya?” Kataku sambil menahan air mataku keluar. Aku membereskan donat-donatku yang berceceran. Ia pun juga ikut membantu. Ia ingin mengatakan seseuatu. Namun aku terlanjur sudah meninggalkannya.
Dalam perjalanan, air mataku tak bisa ku bendung lagi. Aku pergi mengambil semua titipan-titipanku. Kulihat hampir semua  donat-donat yang aku titipkan telah habis. Sewaktu ku ambil titipan donat terakhirku di sebuah toko roti, tak sengaja ku bertemu lagi dengannya. Orang yang menabrakku tadi.  Dia kaget. Begitu juga denganku. Lalu hening.
Kemudian dia angkat bicara, “Hai, mbak! Kita bertemu lagi. Perkenalkan namaku Rifki. Maaf soal kejadian yang tadi ya, mbak! Aku tak sengaja.”
Aku tak menjawab. Masih tersimpan perasaan kesal karenanya. Lalu hal yang tak terduga terjadi. Ia berlutut dan memegang tanganku bak seorang pangeran hendak berdansa dengan putrinya. Ia terus meminta maaf sampai-sampai semua orang melihat kami dengan tatapan aneh.
“Iih, jangan lebay dong! Minta maaf itu emang gampang. Tapi memafkan. Sulit!” Ku coba memberi sedikit jeda agar aku dapat memberi sedikit penekanan pada kalimatku ini, “Oke, aku kasih kamu kesempatan. Aku hanya bisa memaafkanmu jika kau mau mengganti donat-donatku yang telah kau jatuhkan dengan cara membuatnya persis seperti yang kubuat.” Tantangku.
Kulihat ia mulai berpikir kembali. “Baiklah, dimana rumah, mbak? Tentukan waktunya. Aku akan belajar membuat donat pada mbak. Bahan-bahannya akan aku belikan.”
“Oke kalau begitu. Temui aku besok jam 8.00 di Jalan Setia Budi No. 12. Jangan lupa bawa semua bahan-bahan yang tertulis di kertas ini!” Perintahku sambil memberikan secarik kertas itu padanya.   “Akan kutunggu kau disana. Oya, jangan panggil aku mbak! Panggil aku Niken.” Dan aku langsung pergi meninggalkannya dengan wajah sejutek mungkin yang kubisa.
Hari yang ditentukan tiba. Dan seseorang telah mengetuk pintuku. Dan seperti yang kuduga. Setelah ku buka, ternyata itu adalah dia. Kulihat ia telah membawa semua barang-barang yang telah kusuruh.
“Hemm, kau punya nyali juga datang kemari.” Ucapku kasar padanya.
“Bukankah aku sudah berjanji? Janji kan harus ditepati.” Jawabnya.
Lalu akupun mempersilakannya masuk.  Sehari penuh kami berpraktek membuat donat. Banyak kegagalan yang kami hadapi dalam pembuatan donat itu. Namun banyak juga percikan-percikan cinta yang kami lalui dalam kegiatan tersebut. Saat ku sedang mengambil bahan, tak sengaja tanganku bertemu dengan tangannya. Saat ia mengaduk adonan, aku berpikir betapa lucunya ia ketika itu. Dan banyak lagi kejadian yang membuat kami sedikit canggung satu sama lain. Namun semua itu dapat kami lalui dengan sangat luar biasa.
“Horey! Akhirnya donat ini berhasil.” Pekiknya.
“Benarkah? Coba ku cicipi dulu!” Lalu sebuah donatpun langsung meluncur ke mulutku. Dan memang ku akui donat itu rasanya sangat lezat. Setelah itu kami mulai membuatnya dalam jumlah yang banyak untuk kami jual. Kami juga memberi aneka macam topping di atasnya. Agar terlihat lebih menarik.
Kami mulai menjualnya di taman kota. Tapi kami kurang beruntung. Donat kami kalah saingan dengan berbagai macam panganan yang dijual disana. Lalu kami mencoba berkeliling. Menjual ke anak-anak yang sedang bermain bola. Berkeliling ke rumah-rumah penduduk dan menitipkannya ke toko-toko roti terdekat. Hingga akhirnya kami berhasil menjualnya. Setidaknya lebih dari setengahnya.
Dan sejak kejadian itu, hari-hari mulai kami lalui bersama. Kami mulai menjual donat bersama dan menitipkan donat bersama. Sedikit demi sedikit uang mulai terkumpul. Dan uang tersebut kami gunakan untuk membayar biaya rumah sakit ibuku. Setelah lama bersama, mulai muncullah perasaan yang aneh dalam diri kami. Ada perasaan nyaman yang kurasakan saat kami bersama. Dan pada suatu hari, ia mengajakku ke sebuah taman. Disana, kami saling bercengkrama satu sama lain. Dan akhirnya kata-kata yang lama telah kutunggu akhirnya terucap juga olehnya. Dia telah menembakku. Mau bilang apa lagi? Kalau hati memang berkata ya, pasti mulutku juga akan mengatakan ya, kan? Tak kusangka semua ini terjadi padaku. Donat itu memang manis.

-TAMAT-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar