Hatiku gundah. Hari ini terasa
panjang bagiku. Ku menanti dengan cemas. Berharap dokter akan segera keluar
dari ruang UGD dan membawa sebuah berita. Entah itu berita baik ataupun buruk.
Menit-menit telah berlalu. Tiba-tiba sesosok pria dengan jas putih keluar dai
ruang UGD dan menhampiriku.
“Apakah Anda adalah keluarga
dari Bu Rita?” Tanya dokter itu.
“Ya, saya anaknya. Apakah ibu
saya baik-baik saja, Dok?” Tanyaku selanjutnya.
“Ibu Anda baik-baik saja. Untung
saja tadi segera di bawa ke sini. Kalau tidak hal buruk mungkin saja terjadi.” Lalu dokter itu tersenyum padaku. “ Tapi untuk beberapa hari ini ibu Anda harus dirawat
inap di sini. Untuk itu saya harap
pembayarannya sesegera mungkin untuk dilunasi. Agar kami bisa merawat ibu Anda
dengan lebih intensif.” Terang dokter itu.
Lalu hening. Butuh beberapa saat
bagiku untuk memikirkan kembali apa yang telah dikatakan dokter itu. Lalu, aku
mulai berkata, “Baik, Dok. Akan saya usahakan. Kalau begitu saya permisi dulu
untuk melihat kondisi ibu saya.”
“Oh, ya. Tentu saja. Silahkan.”
Lalu aku menganggukkan kepalaku
pada dokter itu dan langsung menuju ruangan dimana ibuku dirawat. Pelan-pelan aku
mendekati ibuku. Ku lihat dia masih tertidur. Ku berjalan ke samping kasur
ibuku. Ku lihat wajahnya. Sungguh tak tega melihatnya tertidur di sana dengan
keadaan seperti itu.
“Oh, Ibu. Apa yang harus
kulakukan? Aku tak tahu caranya menghasilkan uang. Aku harus bagaimana, Bu?”
Kataku lirih sambil terisak. Tiba-tiba, aku
mendengar sesuatu. Suaranya berasal dari luar jendela. Ku berjalan mendekat ke
jendela. Membukanya dan melihat sekitar. Yang dapat ku temukan hanyalah seorang
wanita paruh baya yang sedang membawa sekeranjang penuh jajanan.
“Donat manis! Donat manis!
Rasanya enak harga ekonomis! Ayo, beli, beli!” Teriak wanita itu. Tak lama,
satu per satu anak-anak kecil juga beberapa orang dewasa lainnya datang
menghampirinya. Wanita itu melayani mereka dengan seutas senyum menghiasi
wajahnya. Untuk beberapa saat, terbayang olehku ibuku sedang ada di sana.
Melayani mereka semua dengan seutas senyum tulus menghiasi wajahnya. Dan itulah
jawabannya! Ku menghampiri ibuku yang masih terbaring lemah di kasur. Ku kecup keningnya perlahan. “Tenang saja, Bu.
Aku sudah mendapatkan jawabannya. Aku
akan mendapatkan uang untuk biaya perawatan Ibu. Aku janji!” Kataku lirih.
Setelah itu aku pergi meninggalkan ibuku.
Saat tiba dirumah, aku langsung
menggeledah kamar dan dapur demi mendapatkan resep donat buatan ibuku. Walau
sebelumnya aku juga sedikit ragu dengan apa yang kulakukan. Karena seumur-umur
aku belum pernah membuat donat. Setelah lama mencari, akhirnya akupun menemukannya. Resep donat buatan ibuku
yang super duper lezat. Donat yang telah menghidupi kami selama bertahun-tahun.
Benar. Ibuku memang seorang penjual donat. Donat itu dititpkan ke beberapa toko
roti di kota kami. Dan uang yang sudah terkumpul dari penjualan itu telah
menghidupi kami selama ini. Ayahku telah tiada ketika aku masih kecil. Sehingga
ibuku lah yang menjadi tulang punggung
keluarga.
Hingga pada suatu hari ibuku
tiba-tiba saja muntah darah dan langsung pingsan. Aku langsung membawanya ke
rumah sakit terdekat. Dan akhirnya ibuku harus menginap di rumah sakit. Dan
hanya akulah yang bisa mengganti posisi ibuku mencari uang. Karena aku adalah satu-satunya
anak yang ia miliki.
Sehari penuh ku habiskan waktuku
untuk belajar membuat donat tersebut. Kegagalan dalam membuatnya pun tak bisa
lagi dihitung dengan jari. Namun kata putus asa tidak ada dalam kamusku. Ku
mencoba dan mencoba lagi. Entah sudah berapa banyak bahan yang kugunakan dalam
percobaan ini. Namun aku tetap tak peduli. Dan perjuanganku tidak sia-sia.
Selama berjam-jam aku mencoba membuat donat, setidaknya yang satu ini berhasil.
Rasanya seenak buatan ibuku. Lalu aku mulai membuat donat dengan takaran yang
sama dalam jumlah yang lebih banyak untuk kujual esok hari. Lalu, di bagian
atasnya ku beri beberapa topping agar
terlihat menarik.
Hari berikutnya, aku sudah siap
untuk berjualan donat. Sebagian aku titipkan ke toko-toko roti langgananku,
sebagian aku titipkan ke beberapa sekolah, dan sisanya aku coba untuk
menjualnya ke kampusku. Aku coba untuk tawarkan ke teman satu kelasku. Tapi
mereka masih ragu untuk mencobanya. Lalu aku coba untuk menawarkannya pada
teman-teman di luar kelas. Mungkin saja mereka mau membelinya.
Aku pergi keluar kelas. Lalu
berjalan menuju taman. Disana memang tempat yang pas untuk mengobrol atau
sekedar menikmati udara bebas. Aku berjalan dengan membuka penutup tempat
donat-donatku. Berharap mereka mencium bau harum dari donat-donatku dan
langsung membelinya. Namun semua khayalanku itu hancur. Tiba-tiba aku ditabrak
oleh seseorang dari belakang. Donat-donatku pun jatuh berceceran di tanah. Aku
memandangi donat-donatku yang jatuh. Butuh beberapa saat bagiku untuk
mengumpulkan energi agar bisa memarahinya. Orang yang menabrakku tadipun
terdiam di tempat. Butuh beberapa saat juga baginya untuk menyadari apa yang
sedang terjadi. kemudian ia sadar dan ingin membantuku membereskan donat-donat
yang berceceran. Tapi ia kalah cepat karena temperaturku sudah terlanjur naik.
“Kau ini punya mata tidak?!
Kalau jalan itu hati-hati dong! Jalan itu pakai mata, bukan pakai lutut!”
Kataku dengan emosi yang meledak-ledak. Hampir semua orang yang ada di taman
melihati kami dengan ekspresi kaget. Kulihat
orang yang menabrakku tadi memberi isyarat agar mereka semua tidak memandangi
kami lagi. Dan semuanya mulai berjalan normal kembali.
“Maaf aku nggak sengaja. Tadi
aku harus buru-buru mengumpulkan skripsi ini. Kalau tidak nilaiku yang jadi
ancamnnya.” Terang orang itu.
“Halah! Maaf, maaf! Memang
segampang itu ngucapin maaf? Lihat! Gara-gara ulahmu donat-donatku jatuh semua.
Kalau kayak gini gimana aku bisa menjualnya?” Kataku sambil menahan air mataku
keluar. Aku membereskan donat-donatku yang berceceran. Ia pun juga ikut
membantu. Ia ingin mengatakan seseuatu. Namun aku terlanjur sudah
meninggalkannya.
Dalam perjalanan, air mataku tak
bisa ku bendung lagi. Aku pergi mengambil semua titipan-titipanku. Kulihat hampir
semua donat-donat yang aku titipkan
telah habis. Sewaktu ku ambil titipan donat terakhirku di sebuah toko roti, tak
sengaja ku bertemu lagi dengannya. Orang yang menabrakku tadi. Dia kaget. Begitu juga denganku. Lalu hening.
Kemudian dia angkat bicara, “Hai,
mbak! Kita bertemu lagi. Perkenalkan namaku Rifki. Maaf soal kejadian yang tadi
ya, mbak! Aku tak sengaja.”
Aku tak menjawab. Masih
tersimpan perasaan kesal karenanya. Lalu hal yang tak terduga terjadi. Ia
berlutut dan memegang tanganku bak seorang pangeran hendak berdansa dengan
putrinya. Ia terus meminta maaf sampai-sampai semua orang melihat kami dengan
tatapan aneh.
“Iih, jangan lebay dong! Minta
maaf itu emang gampang. Tapi memafkan. Sulit!” Ku coba memberi sedikit jeda
agar aku dapat memberi sedikit penekanan pada kalimatku ini, “Oke, aku kasih
kamu kesempatan. Aku hanya bisa memaafkanmu jika kau mau mengganti
donat-donatku yang telah kau jatuhkan dengan cara membuatnya persis seperti
yang kubuat.” Tantangku.
Kulihat ia mulai berpikir kembali.
“Baiklah, dimana rumah, mbak? Tentukan waktunya. Aku akan belajar membuat donat
pada mbak. Bahan-bahannya akan aku belikan.”
“Oke kalau begitu. Temui aku
besok jam 8.00 di Jalan Setia Budi No. 12. Jangan lupa bawa semua bahan-bahan
yang tertulis di kertas ini!” Perintahku sambil memberikan secarik kertas itu
padanya. “Akan kutunggu kau disana. Oya, jangan panggil
aku mbak! Panggil aku Niken.” Dan aku langsung pergi meninggalkannya dengan
wajah sejutek mungkin yang kubisa.
Hari yang ditentukan tiba. Dan
seseorang telah mengetuk pintuku. Dan seperti yang kuduga. Setelah ku buka,
ternyata itu adalah dia. Kulihat ia telah membawa semua barang-barang yang
telah kusuruh.
“Hemm, kau punya nyali juga
datang kemari.” Ucapku kasar padanya.
“Bukankah aku sudah berjanji?
Janji kan harus ditepati.” Jawabnya.
Lalu akupun mempersilakannya
masuk. Sehari penuh kami berpraktek
membuat donat. Banyak kegagalan yang kami hadapi dalam pembuatan donat itu.
Namun banyak juga percikan-percikan cinta yang kami lalui dalam kegiatan
tersebut. Saat ku sedang mengambil bahan, tak sengaja tanganku bertemu dengan
tangannya. Saat ia mengaduk adonan, aku berpikir betapa lucunya ia ketika itu.
Dan banyak lagi kejadian yang membuat kami sedikit canggung satu sama lain.
Namun semua itu dapat kami lalui dengan sangat luar biasa.
“Horey! Akhirnya donat ini
berhasil.” Pekiknya.
“Benarkah? Coba ku cicipi dulu!”
Lalu sebuah donatpun langsung meluncur ke mulutku. Dan memang ku akui donat itu
rasanya sangat lezat. Setelah itu kami mulai membuatnya dalam jumlah yang
banyak untuk kami jual. Kami juga memberi aneka macam topping di atasnya. Agar terlihat lebih menarik.
Kami mulai menjualnya di taman
kota. Tapi kami kurang beruntung. Donat kami kalah saingan dengan berbagai
macam panganan yang dijual disana. Lalu kami mencoba berkeliling. Menjual ke
anak-anak yang sedang bermain bola. Berkeliling ke rumah-rumah penduduk dan
menitipkannya ke toko-toko roti terdekat. Hingga akhirnya kami berhasil
menjualnya. Setidaknya lebih dari setengahnya.
Dan sejak kejadian itu,
hari-hari mulai kami lalui bersama. Kami mulai menjual donat bersama dan
menitipkan donat bersama. Sedikit demi sedikit uang mulai terkumpul. Dan uang
tersebut kami gunakan untuk membayar biaya rumah sakit ibuku. Setelah lama
bersama, mulai muncullah perasaan yang aneh dalam diri kami. Ada perasaan
nyaman yang kurasakan saat kami bersama. Dan pada suatu hari, ia mengajakku ke
sebuah taman. Disana, kami saling bercengkrama satu sama lain. Dan akhirnya
kata-kata yang lama telah kutunggu akhirnya terucap juga olehnya. Dia telah
menembakku. Mau bilang apa lagi? Kalau hati memang berkata ya, pasti mulutku
juga akan mengatakan ya, kan? Tak kusangka semua ini terjadi padaku. Donat itu
memang manis.
-TAMAT-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar